Kenapa Masih Bertahan Kalau Berpisah Mungkin Lebih Menyenangkan?


Masalah hati adalah masalah yang nggak pernah mudah untuk dipahami. Ketika hati mulai berkuasa, semua logika seperti nggak berguna. 

Misalnya gini, kenapa sebagian orang rela kembali ke mantannya meskipun dia pernah disakiti? Ngasih kesempatan untuk berubah? Bisa, sih. Tapi, bagaimana dengan mereka yang udah tiga, empat, atau bahkan belasan kali putus nyambung tapi tetep ngeyel buat kembali bersatu? 

Kesempatan itu terasa unlimited kalau hati yang bicara. Mungkin, 'ngasih kesempatan' hanya dijadikan sebagai alasan.

Berlibur ke Bali? Kamu Termasuk Tipe yang Mana?

Berlibur adalah bucket list yang biasanya sudah kita rencanakan dari jauh-jauh hari. Rutinitas di kantor yang monoton membuat kita jenuh karena pekerjaan yang dilakukan itu-itu saja dan berulang terus menerus. Bisa juga karena keterbatasan waktu dengan keluarga yang akhirnya mendapat complain karena dianggap lebih mementingkan pekerjaan daripada orang-orang di rumah.
Kita akhirnya akan mengambil kalender untuk mencari hari libur atau jika beruntung bisa memanfaatkan hari kejepit, sekaligus membuka situs resmi airlines tertentu untuk mencocokan tanggal, lalu pilih penginapan yang bagus di Bali.
Lalu, apa yang seharusnya dilakukan setelah mencocokan cuti dan tanggal keberangkatan?
Kita bisa mulai mencari destinasi atau tujuan, mencari hotel yang akan digunakan sesampainya di sana, serta tempat wisata yang bisa di-explore.



Pexels.com
Secara garis besar, kita dibagi menjadi dua tipe:

Positif-Negatif Pokemon Go, Mana Yang Lebih Dominan?

Di dunia ini segala sesuatu bisa menjadi berbahaya. Bahkan, kapas yang paling lembut sekalipun bisa menjadi ancaman berbahaya kalo tiba-tiba iseng disumpelin ke dalam mulut. Gak bisa napas. Atau, kalau mau dibalik, segala sesuatu di dunia ini bisa menjadi sangat aman, menolong, dan memudahkan, walaupun itu adalah benda-benda berbahaya sekalipun. Misalnya, golok, itu adalah benda yang membuat kita bisa makan enak, karena digunakan buat menyembelih hewan.

Begitupun game Pokemon Go.

Tentang mereka yang terlalu pencemburu


Cemburu itu ibarat dua sisi mata silet. Sama-sama tajam. Kebanyakan cemburu gak enak, tapi nggak pernah dicemburuin juga nggak asik.

Cemburu sejatinya adalah sifat manusia. Entah karena apa. Entah karena siapa. Bahkan, disadari atau nggak, kadang kita juga cemburu kalau orang tua lebih perhatian sama anak tetangga, atau cemburu kepada teman yang lebih sering main dengan teman barunya. Iya, kan? Udah, ngaku aja.

Meski sifatnya wajar, tapi cemburu juga bisa menjadi kurang ajar.

"Kok kamu telat jemputnya?"
"Maaf, tadi kena tilang."
"Polisinya cewek apa cowok?"
"Cewek."
"Kamu selingkuh! Nonton dangdutnya batal! Dangutan aja sono sama polwan!"

Dalam urusan asmara, cemburu adalah bumbu paling ajaib yang membuat hubungan mejadi lebih menarik.

Setiap pasangan pasti punya rasa cemburu, entah itu cuma buat disimpan sendiri atau ditunjukan secara gamblang. Pasangan yang menunjukan rasa cemburunya, mereka nggak salah. Mereka yang menyimpan rasa cemburunya juga nggak salah. Meskipun pada kenyataannya, dalam kasus kedua hubungan menjadi sedikit datar. Kurang gereget. Seolah-olah nggak saling sayang, walaupun sebenrnya hanya saling memberi kebebasan dan kepercayaan.

Lagipula, hubungan yang terlalu banyak dibumbui rasa cemburu gue rasa nggak sehat. Selalu dihantui dengan larangan. Selalu dihantui dengan kecurigaan. Selalu merasa dibatasi. Hidup terasa hanya sebatas genggaman tangan pasangan. 
Musuh Itu Bernama Realita

Musuh Itu Bernama Realita

Menurut gue, hal yang paling mengerikan di dunia ini adalah realita. Realita bisa membunuh kreatifitas. Realita bisa memutus harapan. Realita bisa membungkam impian. Dan satu-satunya hal yang nggak bisa dikalahkan realita adalah realita itu sendiri.

Pokoknya gitu...

Malam itu gue ngeliat status temen gue, Harris, yang ngasih link blognya. Tumben dia ngeblog. Karena penasaran, akhirnya gue buka dan baca. Saat lagi baca, gue menemukan satu kalimat yang membuat gue berasa ditampar. 

"Tiba-tiba power itu ilang.. kebawa realita."

Kata-kata itu ditujukan buat dirinya sendiri, tapi entah kenapa gue juga ikutan ngerasa. Kebawa realita... Kebawa realita.... Kebawa realita... Aaaakkkk....

Oke, lebay.

Sulit untuk memahami realita. Realita bisa sangat berbeda antara satu orang dengan lainnya. Semua tergantung cara pandang orang masing-masing. Tapi, ya, intinya realita adalah kenyataan.

Ngomongin soal realita, bukan cuma ngomongin soal keburukan aja, atau kebaikan aja. Realita adalah gabungan dari keduanya. Realita menciptakan sebuah ruang yang di dalamnya terdapat sesuatu yang kita sebut dengan kehidupan. Tak ada kehidupan yang manis saja. Tidak ada juga kehidupan yang dipenuhi masalah saja.

Keduanya saling bersinergi. Keduanya saling berkaitan. Menciptakan realita.

Ketika Nyontek Sudah Menjadi Budaya

Gue rasa jarang banget ada orang yang nggak pernah nyontek satu kali pun dalam hidupnya. Atau mungkin, malah nggak ada sama sekali? Keberadaannya selama ini hanyalah mitos?

Kalau berhasil nemuin orang yang kayak begitu, nggak pernah nyontek... Buruan nikahin.

Gue ngerasa sudah banyak orang yang kini mendewakan nilai. Seolah-olah dengan nilai gede hidup menjadi tenteram. Dapet banyak nilai A, semua orang bakalan mengelu-elukan. Guru muji. Temen ngedeketin. Bahkan, sudah merasa menginjakkan satu kaki buat naik kelas, atau masuk Universitas idaman. Tentu ujung-ujungnya gampang dapet kerja. Tapi, semua menjadi percuma kalo nggak bisa ngerayu. Iya, tetep jomblo. Eh, tapi nilai bagus bisa menarik perhatian doi juga, sih. Pokoknya dengan nilai gede, hidup jadi lebih indah dan mudah...

Pandangan seperti itu yang bikin nyontek menjadi hal yang lumrah. Demi dapat nilai bagus, jalan apapun ditempuh. Demi hidup yang lebih mudah, bodo amat sama proses, kalo hasil instant dengan cara nyontek aja bisa dapet nilai gede!

Ya, gitu... Generasi instant.

Dan belakangan ini gue merasa para pencontek semakin bangga dengan usaha tipu-tipu yang mereka lakukan. Terutama saat ujian. Terutama saat ujian yang soalnya susah. Terutama saat ujian yang soalnya susah dan udah nyoba mikir dan ngitung tapi hasilnya nggak ada di pilihan ganda. Beda banget pas waktu gue SD dulu, ketauan nyontek sama temen aja rasanya malu.

Terjebak Friendzone? Ambil Sisi Positifnya Aja


Gue rasa dunia percintaan semakin kejam. Iya, kayaknya begitu. Kayaknya sudah menjadi rahasia umum kalau semakin banyak manusia gak bermoral yang cuma pengen menikmati tanpa memiliki, bahkan hamil di luar nikah semakin terdengar biasa aja. Belum lagi mereka yang meninggalkan kewajaran demi mendapatkan yang posisi kencingnya sama, dan jangan lupakan manusia-manusia bernasib malang yang terperangkap dalam status: teman. Bhak! Friendzone, tetap eksis tak termakan zaman.

Untuk masalah yang terakhir, friendzone, gue rasa gak perlu dijelasin lagi maksudnya. Gue yakin udah paham. Intinya, ya, lo cuma dianggap teman. Udah. Gitu aja. Gak ada lagi. Sedih, deh.

Kejam, kan?



Tapi tenang, gak selamanya terjebak friendzone itu menyakitkan, terkadang malah sangat menyakitkan. Nggak, maksudnya, iya, sih memang menyakitkan, tapi gue rasa gak akan terlalu menyakitkan kalau kita bisa mengambil sisi positifnya. 

Sisi positif? Emang ada?

Ada...

Kayaknya.

Yaudah, biar percaya, simak aja sisi positif yang dapat kita ambil saat terjebak friendzone: