Musuh Itu Bernama Realita

Menurut gue, hal yang paling mengerikan di dunia ini adalah realita. Realita bisa membunuh kreatifitas. Realita bisa memutus harapan. Realita bisa membungkam impian. Dan satu-satunya hal yang nggak bisa dikalahkan realita adalah realita itu sendiri.

Pokoknya gitu...

Malam itu gue ngeliat status temen gue, Harris, yang ngasih link blognya. Tumben dia ngeblog. Karena penasaran, akhirnya gue buka dan baca. Saat lagi baca, gue menemukan satu kalimat yang membuat gue berasa ditampar. 

"Tiba-tiba power itu ilang.. kebawa realita."

Kata-kata itu ditujukan buat dirinya sendiri, tapi entah kenapa gue juga ikutan ngerasa. Kebawa realita... Kebawa realita.... Kebawa realita... Aaaakkkk....

Oke, lebay.

Sulit untuk memahami realita. Realita bisa sangat berbeda antara satu orang dengan lainnya. Semua tergantung cara pandang orang masing-masing. Tapi, ya, intinya realita adalah kenyataan.

Ngomongin soal realita, bukan cuma ngomongin soal keburukan aja, atau kebaikan aja. Realita adalah gabungan dari keduanya. Realita menciptakan sebuah ruang yang di dalamnya terdapat sesuatu yang kita sebut dengan kehidupan. Tak ada kehidupan yang manis saja. Tidak ada juga kehidupan yang dipenuhi masalah saja.

Keduanya saling bersinergi. Keduanya saling berkaitan. Menciptakan realita.

Ya, realita itu menciptakan realita yang lain. Realita berdiri untuk menopang realita yang lain. Gitu, deh...

Kalau dipikir-pikir lagi, udah banyak banget kegagalan yang gue alami karena realita hidup gue yang... ah, pokoknya gitu deh. Mulai dari cita-cita yang dipaksa mati, sampai gebetan yang akhirnya nikah sama orang lain. 

Di saat-saat seperti itu, gue ngerasa seperti kehilangan kekuatan untuk melakukan sesuatu. Gue gak bisa apa-apa. Gue gak mau melakukan apa-apa. Pasrah adalah pilihan terbaik, meskipun gue tau pasrah bukanlah pilihan yang bijak.

Realita juga sudah membawa gue ke arah yang lain. Bisa dibilang, lebih menyenangkan. Cita-cita yang baru, sampai ketemu gebetan baru, ketemu teman-teman yang 'gila', dan lain sebagainya. Hal yang sebelumnya gue anggap sudah habis, tapi nyatanya baru dimulai.

Mungkin akan sangat menyakitkan ketika nggak bisa bilang A padahal sangat ingin bilang A. Namun nyatanya, ada hal baik di balik semua itu. Ada kenyataan lain di balik kenyataan yang nggak bisa dipertahankan.

Terkadang, disadari atau nggak, sebenarnya kita terjebak di dalamnya, di salah satu antara kehidupan yang menyenangkan atau kehidupan yang penuh dengan masalah. Dari masing-masing kenyataan itu, ada hal mengerikan yang menunggu. Musuh dalam gelap, atau musuh dalam terang. Musuh dalam bentuk kesulitan, atau musuh yang membuat terlena dalam kehidupan yang menyenangkan.

Kalau nggak bisa atau nggak mau keluar, kita bisa terjebak di sana selamanya. Bahkan semua bisa berakhir meski garis akhir masih sangat jauh.

Musuh itu adalah realita itu sendiri.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »