Tentang mereka yang terlalu pencemburu


Cemburu itu ibarat dua sisi mata silet. Sama-sama tajam. Kebanyakan cemburu gak enak, tapi nggak pernah dicemburuin juga nggak asik.

Cemburu sejatinya adalah sifat manusia. Entah karena apa. Entah karena siapa. Bahkan, disadari atau nggak, kadang kita juga cemburu kalau orang tua lebih perhatian sama anak tetangga, atau cemburu kepada teman yang lebih sering main dengan teman barunya. Iya, kan? Udah, ngaku aja.

Meski sifatnya wajar, tapi cemburu juga bisa menjadi kurang ajar.

"Kok kamu telat jemputnya?"
"Maaf, tadi kena tilang."
"Polisinya cewek apa cowok?"
"Cewek."
"Kamu selingkuh! Nonton dangdutnya batal! Dangutan aja sono sama polwan!"

Dalam urusan asmara, cemburu adalah bumbu paling ajaib yang membuat hubungan mejadi lebih menarik.

Setiap pasangan pasti punya rasa cemburu, entah itu cuma buat disimpan sendiri atau ditunjukan secara gamblang. Pasangan yang menunjukan rasa cemburunya, mereka nggak salah. Mereka yang menyimpan rasa cemburunya juga nggak salah. Meskipun pada kenyataannya, dalam kasus kedua hubungan menjadi sedikit datar. Kurang gereget. Seolah-olah nggak saling sayang, walaupun sebenrnya hanya saling memberi kebebasan dan kepercayaan.

Lagipula, hubungan yang terlalu banyak dibumbui rasa cemburu gue rasa nggak sehat. Selalu dihantui dengan larangan. Selalu dihantui dengan kecurigaan. Selalu merasa dibatasi. Hidup terasa hanya sebatas genggaman tangan pasangan. 

Cemburu
Bukankah hubungan yang baik ada karena dua orang yang saling menyayangi, bukan dua orang yang saling membatasi? Bukankan hubungan yang baik ada karena dua orang saling mencintai, bukan dua orang yang saling mencurigai?

Mereka yang terlalu pencemburu sebenarnya tidak percaya diri. Mereka terlalu takut pasangannya diambil orang lain. Mereka terlalu takut orang lain yang membuat pasangannya merasa lebih nyaman. Mereka terlalu takut kalah saing. Alih-alih memperbaiki diri agar pasangannya tetap setia, mereka justru membatasi pergaulan si dia.

Mereka yang terlalu pencemburu sebenarnya tidak memiliki kepercayaan terhadap pasangan. Mereka tidak percaya kalau pasangannya akan setia. Mereka tidak percaya kalau pasangannya hanya menjalin pertemanan biasa. Hubungan yang nggak dilandasi rasa percaya, rasanya mustahil akan berlangsung lama.

Mereka yang terlalu pencemburu, secara nggak sadar sudah membuat pasangannya menjadi nggak nyaman. Merasa dibatasi. Nggak boleh deket-deket sama si itu. Gak boleh beli pulsa sama abang itu. Nggak boleh ke alfamart kalo yang jaganya mbak-mbak. Ah, ribet.

Mereka yang terlalu pencemburu, membuat hubungan menjadi lebih keras. Imbas dari sebuah cemburu adalah kemarahan, lalu putus, dan beberapa kasus malah melibatkan kekerasan.

Dan, mereka yang hubungannya terlalu banyak disuguhi rasa cemburu, justru beresiko lebih tinggi melakukan perselingkuhan. Setiap pasangan sewajarnya ingin disayang, buka dikekang. Kalau pasangan yang sekarang cuma bisa mengekang, dia pasti mencari yang bisa menyayang.

Cemburu memang penting, agar hubungan menjadi lebih ada gregetnya. Tapi sesuatu yang berlebihan, apapun itu, termsuk cemburu, efeknya pasti nggak baik. Cemburulah sesuai dengan kadarnya, dan jadilah pasangan yang bisa mengerti, bukan yang cuma mau menang sendiri.

Satu lagi. Cemburu yang berlebihan juga nggak baik buat kesehatan, bisa mengakibatkan hipertensi, penyakit jantung, asma, sakit kepala, dan lain sebagainya. Jadi, yang mau memanfaatkan BPJS secara maksimal, jadilah pencemburu.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »