Positif-Negatif Pokemon Go, Mana Yang Lebih Dominan?

Di dunia ini segala sesuatu bisa menjadi berbahaya. Bahkan, kapas yang paling lembut sekalipun bisa menjadi ancaman berbahaya kalo tiba-tiba iseng disumpelin ke dalam mulut. Gak bisa napas. Atau, kalau mau dibalik, segala sesuatu di dunia ini bisa menjadi sangat aman, menolong, dan memudahkan, walaupun itu adalah benda-benda berbahaya sekalipun. Misalnya, golok, itu adalah benda yang membuat kita bisa makan enak, karena digunakan buat menyembelih hewan.

Begitupun game Pokemon Go.
Gue nggak ngerti kenapa game ini bisa se-booming seperti sekarang. Faktor media yang terlalu membesar-besarkan? Bisa jadi. Faktor nostalgia masa kecil dulu? Bisa jadi juga. Atau, faktor lain? Terserah. Intinya sih sekarang Bokap gue suka heran kalo ngeliat berita yang isinya tentang pokemon... lagi... dan lagi. Nyokap juga jadi penasaran sama permainan itu. Gue nggak mau ngasih tau secara mendetail. Takutnya nyokap lebih milih nyari pokemon daripada masak.

Beberapa temen gue juga ada yang mainan gituan, dan beberapa yang lain (yang nggak bisa install, atau nggak mau) ya nyinyir, atau paling nggak ya bodo amat. Gue sendiri adalah orang yang nyimpen game itu di handphone. Kenapa coba? Biar kekinian! Nggak, gak gitu. Kalau mau ngikutin orang-orang, mungkin gue juga udah main Clash of Clans, Clash Royale, atau game-game lainnya yang bikin orang-orang ngumpul buat main bareng dan ngomongin. Gue nggak terlalu ngikutin game. Buat Pokemon Go, gue suka aja, Pokemon, Digimon, atau Tamiya, itu seperti mengembalikan gue ke masa SD dulu. Menyenangkan.

Tapi, semakin hari gue lihat berita, gue merasa game ini berubah menjadi mengerikan, terutama karena ada  orang-orang yang menganggap game ini terlalu serius. Ada yang sampai jatuh ke jurang. Ada juga yang sampai nyasar masuk ke markas TNI. Ke Masjid cuma buat ke Pokestop, solat kaga. Rela begadang, sengaja keluyuran malem karena jalanan sepi, tapi hati sepi dibiarin aja. Pake kendaraan bentar-bentar berenti, liat hp, nyelonong lagi, berenti lagi, liat hp, nyelonong lagi. Dan, menurut gue yang cukup miris adalah banyak orang-orang keluar rumah, ngumpul di taman atau tempat terbuka, duduk dempet-dempetan... tapi matanya natap HP. 

Semoga nggak ada yang gitu.
Source

Duduknya nggak dempet-dempetan. Jauhan dikit.

Tapi, tentu nggak ada sesuatu yang diciptakan tanpa ada sisi positifnya.

Pokemon Go mengajarkan kita buat nggak berdiam diri di rumah. Kita harus bergerak untuk mendapatkan sesuatu. Kita disuruh jalan keluar, peka lingkungan, kenal tetangga, tahu kondisi sekitar kita. Intinya sih kita disuruh bersosialisasi. Kita juga diajak sehat dengan BERJALAN, bakar kalori, bukan pake kendaraan bentar-bentar berenti. Atau, kalaupun terpaksa pake kendaraan, baiknya bersama teman, gebetan, mantan, selingkuhan teman, atau terserah sama siapa aja. Jangan sendiri. Kenapa coba? Biar nggak mengundang orang jahat buat ngerampok. Lagian, kalau rame-rame kan lebih seru.

Pokemon Go sebenarnya nggak akan booming kalau nggak ada yang main. Iya, kan? Karena banyak yang main dan ngomongin, makannya booming. Karena banyak yang main, jadi banyak kepala, semakin banyak juga pemikiran. Yang waras adalah mereka yang menganggap ini cuma game, hiburan, selingan di waktu kosong, nggak sampai bela-belain begadang, ninggalin kerjaan, atau bahkan menduakan pasangan, juga nggak dianggap terlalu serius karena ini bukan milih pasangan hidup.

Nah, yang pikirannya nggak waras ini yang perlu diperhatikan. Sejatinya manusia adalah mahluk yang penasaran, dan game bisa membuat kecanduan. Kecanduan karena penasaran. Jujur, kalau diturutin mungkin gue juga bisa jadi seperti mereka, yang niat keluar rumah cuma buat nyari pokemon sampai nggak inget waktu. Orang-orang yang nggak bisa ngalahin dirinya sendiri ini yang bisa dipermainkan oleh permainan dunia.

Untuk menghindari, mencegah, dan meminimalisir orang-orang yang pikirannya jadi nggak waras ini yang membuat beberapa tempat jadi dilarang dijadkan tempat bermain Pokemon Go, seperti beberapa sekolah, Istana kepresidenan, berbagai perusahaan, bahkan aparat kepolisian dilarang tegas punya game ini di handphonenya. Lagian, nggak lucu juga kalau ada beberapa polisi jalan bareng sambil nunduk ngeliatin hp, nyari pokemon. 

Kalau ditanya mana yang lebih dominan antara efek negatif atau positif dari Pokemon Go, gue nggak tau. Kalau kata gue mah ini tergantung cara pandang aja, sih. Positif atau negatif tergantung pemikiran kita. Mereka yang menganggap ini negatif, ya bener, emang ada negatifnya. Mereka yang menganggap ini positif juga nggak salah.

Segala sesuatu punya nilai positif dan negatifnya, gak bisa dilihat dari sesuatunya, tapi dilihat dari penggunaannya. Maka bijaklah dalam melakukan sesuatu, termasuk main game.

Sekedar saran,

Yang udah main, mainnya jangan berlebihan. Sesuatu yang berlebihan itu nggak baik. Buat yang nggak main dan nggak suka, nggak usah nyinyir, karena setiap orang punya kesenangannya masing-masing. 

Menurut kalian Pokemon Go itu positif atau negatif, sih?


Share this

Related Posts

Previous
Next Post »