Kenapa Masih Bertahan Kalau Berpisah Mungkin Lebih Menyenangkan?


Masalah hati adalah masalah yang nggak pernah mudah untuk dipahami. Ketika hati mulai berkuasa, semua logika seperti nggak berguna. 

Misalnya gini, kenapa sebagian orang rela kembali ke mantannya meskipun dia pernah disakiti? Ngasih kesempatan untuk berubah? Bisa, sih. Tapi, bagaimana dengan mereka yang udah tiga, empat, atau bahkan belasan kali putus nyambung tapi tetep ngeyel buat kembali bersatu? 

Kesempatan itu terasa unlimited kalau hati yang bicara. Mungkin, 'ngasih kesempatan' hanya dijadikan sebagai alasan.

Sementara itu, beberapa orang di luar sana dengan lantang mengatakan bahwa kembali adalah sebuah kesalahan.

"KENAPA BALIK LAGI? KAYAK NGGAK ADA YANG LAIN AJA!"
"Ya, abisnya mau gimana lagi."
"TINGGALIN! LO BISA CARI YANG LEBIH BAIK!"
"Nggak bisa. Surat tanah keluarga gue ada di dia."

Orang-orang yang menggunakan logika nggak akan peduli dengan alasan yang dikasih sama mereka yang masih pakai hati. Kalau salah, ya salah. Dipikir bagaimanapun, tetep salah. 

Sementara mereka yang pakai hati, sebesar apapun kesalahannya selalu ada tombol reset yang bisa mengembalikan seperti semula. Setiap kesalahan seperti jamu yang bisa menyehatkan. Sepahit apapun rasanya, selalu ada kepercayaan bahwa semua bisa kembali lagi dengan lebih kuat setelahnya. Semakin banyak rintangan yang dihadapi, semakin kuat ikatan yang terjalin.

Begitu juga dengan orang yang tetap bertahan dalam menyukai seseorang, meskipun sadar orang itu nggak akan membalas rasa sukanya. Perasaannya itu tetap digenggam dengan erat. Jamu yang diminum pun lebih banyak, tujuannya agar lebih kuat saat melihatnya bahagia dengan orang lain. 

"Kalau dia bahagia, aku pun bahagia karenanya." 

Itu jamunya. Tertanam dalam mindset, dan tanpa sadar menyakiti diri sendiri.

Alih-alih menyerah dan mencari yang lebih rasional untuk didapatkan, nyatanya jamu itu terus diminum dan pahitnya masih dinikmati. Hasilnya, semakin hari semakin kuat untuk tersenyum dan ikut bahagia saat melihatnya bahagia dengan orang lain.

Yup, bahagia adalah tujuan dari setiap hubungan. Bahagia walau hanya bisa mencintai, tanpa tahu kapan rasa itu akan berbalas. Bahagia karena bisa bersama orang yang dicintai, meskipun kalau ngobrol seringnya pakai tensi tinggi. Kalau dengan cara itu udah bisa bikin bahagia, ya udah. Cukup.

Masalahnya, memangnya itu beneran bahagia? Atau cuma pura-pura bahagia buat nutupin hati yang terlanjur terluka? Atau malah takut nggak bisa ngedapetin yang lebih dari dia?

Lalu, muncul sebuah pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh masing-masing orang :

"Kenapa masih bertahan kalau berpisah mungkin lebih menyenangkan?"

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

2 komentar

komentar