Tentang Kehilangan Dan Lagu Penyayat Hati


Kehilangan adalah hal yang pasti. Mungkin ada yang belum pernah merasakannya, atau malah ada yang udah berkali-kali ngerasain sakitnya. Pernah atau belum, percayalah, kita akan terus ngerasain kehilangan sampai akhirnya orang lain yang akan ngerasain kehilangan kita. Sebesar apapun yang kita dapatkan, akhir dari segalanya adalah kehilangan. Karena pada dasarnya hidup adalah tentang kehilangan. Satu-satunya hal yang akan tetap kita bawa adalah amal perbuatan.

Kayaknya paragraph pembuka itu lebih cocok dijadiin ending, ya?

Biarin deh, yang penting keren, kan?

Sekarang gue mau membahas tentang kehilangan dan lagu penyayat hati. Pembahasan yang masih berkaitan dengan paragraf pembuka tadi.

Pernah gak, sih, kalian ngerasain kehilangan, entah itu orang yang disayang, pacar, harapan, atau… sandal, setelah kejadian itu ngedengerin lagu-lagu melankolis? 

Gue rasa semua orang pernah. 

Atau, gak sengaja lah denger gitu. Misalnya, pagi-pagi, pas lagi beli nasi uduk tiba-tiba denger lagu Rhoma Irama - Kehilangan. 

Rasanya tuh… nyesss…

Iya, kan?

NGAKU!!

Ngedengerin lagu galau saat galau itu kayak makan mecin. Udah tau nggak baik, tapi suka jajan lidi-lidian, terus sisa mecin di jari dijitalin sampe bersih.

Kenapa coba? Karena enak!

Iya, dengerin lagu-lagu galau pas lagi galau emang enak banget. Bageett. Rasanya kayak ada yang mendukung buat tetep nangis-nangis di pojokan kamar sambil membayangkan si dia... sandal jepit yang hilang itu. Lagu-lagu itu seakan membawa kembali kepada momen-momen manis, sampai nggak sadar air mata udah berjatuhan mirip gerimis. 

Tapi, disadari atau nggak, kenyataannya lagu-lagu galau malah menyeret kita terjun ke dalam jurang depresi. Semakin dalam, semakin dalam, sampai akhirnya lupa caranya bangkit. Males ngapa-ngapain. Lupa cara bahagia. Lupa kalau ada yang lebih penting daripada mikirin dan mengharapkan sesuatu yang salah. Semakin menghayati lirik lagunya, semakin kita rapuh, lalu hancur. Akhir dari segalanya adalah menyalahkan sang pencipta yang dianggapnya tidak adil.

Berlebihan, ya?

Biarin. 

Pada kenyataannya, ternyata mendengarkan lagu galau bisa berefek buruk. Mendengarkan lagu-lagu galau berlebihan bisa mengurangi produksi hormon serotonin. Menurut wikipedia, hormon serotonin adalah *Ctrl+c* *Ctrl+v* Serotonin (bahasa Inggris5-hydroxytryptamine, 5-HT) adalah suatu neurotransmiter monoamino yang disintesiskan pada neuron-neuron serotonergis dalam sistem saraf pusat dan sel-sel enterokromafin dalam saluran pencernaan. Hormon ini dipercaya sebagai pemberi perasaan nyaman dan senang.

Hormon Serotonin  =  Hormon pemberi perasaan nyaman dan senang. 

Sengaja ditebelin. Biar greget.

Intinya, semakin sering kita ngedengerin lagu-lagu galau, apalagi saat sedih, kita akan semakin tidak bahagia, karena produksi hormon serotonin berkurang.

Kehilangan memang nggak enak, pasti, tapi ngedengerin lagu-lagu penyayat hati saat hati lagi sakit bukan pilihan yang bijak. Kasihan mental kamu, nak. Nanti depresi, terus gila, loh.

Nggak, nggak sampai segitunya juga, sih.

Eh, tapi bisa jadi. 

Sebenernya lagu-lagu seperti itu nggak selamanya negatif. Ya, tergantung suasana hati aja, sih.

Gue percaya kalau lagu-lagu sedih, galau, ngenes, dan semacamnya yang lirik dan musiknya sama-sama nusuk hati, gampang memainkan perasaan orang. Misalnya pas lagi kesel, terus dengerin lagu Banda Neira, gue rasa keselnya berkurang, atau dengerin lagu-lagu Payung Teduh, adem deh. Nggak menjamin hilang sih, tapi setidaknya keselnya berkurang. Gue juga sering ngedengerin lagu macam begituan pas lagi nulis. Enak aja bawaannya.

Bakalan beda cerita kalau perasaannya lagi sedih, galau, kemungkinan besar akan bercucuran air mata.

Lagu-lagu penyayat hati memang nggak baik didengertin pas lagi sedih, apalagi pagi-pagi, tapi selalu ada waktu tersendiri untuk menikmati, dan setiap orang punya waktunya sendiri-sendiri.

Kalau mau yang bisa didengerin di setiap saat, sedih, senang, pagi, siang, sore, atau malem, dan bisa bikin hati tenang, coba dengerin murottal. Hayati. Resapi, Insya Allah barokah.

Kehilangan adalah hal yang pasti. Boleh ditangisi, tapi jangan diratapi, apalagi sambil dengerin lagu-lagu penyayat hati di tengah rel kereta api. Jangan. Pokoknya jangan.

Sekian. Semoga bermanfaat. Dan jangan lupa makan pisang. 

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

6 komentar

komentar
14 April 2017 at 02:27 delete

betul lagi galau tentunya setiap kegiatan hrs yang bisa mndorong kita move on ya bukan dg lagu yang melow

Reply
avatar
14 April 2017 at 20:14 delete

Kalau lg sedih gak berani muter lagu yg galau takut tambah suedih dan susah buat move dari sedihnya 😅

Reply
avatar
15 April 2017 at 19:44 delete

Bener banget. Kalo mau tetep dengerin lagu, dengertinnya lagu koplo aja~

Reply
avatar
15 April 2017 at 19:47 delete

Iya, mendingan jangan muter lagu galau, apalagi muterin kampung tanpa ada tujuan. Jangan. Pokoknya jangan.

Reply
avatar
28 June 2017 at 23:50 delete

Hal yang paling galau dari yang paling galau adalah kehilangan waktu buat bermain bareng sahabat

Reply
avatar
8 July 2017 at 14:10 delete

Sebaiknya anda meluangkan waktu untuk sahabat anda, kurang-kurangin tidur di hari libur, jangan kebanyakan pacaran (mendingan langsung nikah), dan jangan menyebrang jalan di bawah jembatan penyebrangan. Jangan. Pokoknya jangan.

Reply
avatar