Efek Melakukan Sesuatu Karena Orang Lain

Anto adalah seorang pelajar biasa di sebuah sekolah menengah kejujuran. Tidak ada yang ditutup-tutupi di sana, karena semua orang yang sekolah di sana jujur. Tapi, suatu hari, tiba-tiba Anto berubah menjadi anak yang tidak jujur. Bukan kepada orang lain, melainkan kepada dirinya sendiri.

Kenapa?

Karena dia jatuh cinta.

Anto jatuh cinta pada pandangan pertama setelah melihat anak baru di kelasnya sedang menguncir rambut. Cuma karena itu. Iya, cuma karena itu juga sepasang sahabat bisa berantem ngerebutin perempuan itu. Luar biasa memang pesona perempuan yang lagi nguncir rambutnya.

Gosip yang beredar, perempuan yang disukai Anto itu menyuakai musik. Dengan pengetahuan ala kadarnya, Anto pun melancarkan serangan pertama.





"Hai, aku Anto. Aku suka dan hafal semua lagu-lagu Kangen Band," ucapnya pede sambil mengulurkan tangan, di tengah keheningan jam istirahat, di saat teman-teman kelasnya belum kembali dari kantin.

"Amazing!" perempuan itu takjub, lalu menyambut tangan Anto. "Aku pikir orang-orang kayak kamu udah punah."

"Nggak. Masih sisa dikit, hehe." kata Anto, semakin bangga.


Padahal, boro-boro tahu musik, ngetok pintu aja fals, apalagi tahu lagu-lagu band sefenomenal Kangen Band. Tidak mungkin.

Namun, berkat hal itu mereka jadi teman dan perlahan mulai akrab. Belakangan Anto juga jadi tahu kalau perempuan itu selera musiknya lebih ke arah Seringai, Slank, Superman is Dead. Iya, dia suka band berawalan huruf 'S'.

Merasa dapat lampu kuning, Anto pun melancarkan serangan kedua agar bisa dapat lampu hijau. Dia pun mulai belajar musik. Semua alat musik dia pelajari. Nyanyi? Tidak, karena dia sadar diri.

Anto yang sebenarnya tidak bisa dan tidak berminat memainkan alat musik, secara mengejutkan jago memainkan gitar dalam semalam.

Si perempuan takjub.

Dua hari kemudian dia menunjukan kebolehannya memainkan drum, berkat dua hari dua malam latihan, bolos sekolah dan nyewa studio. 

Tiga hari berselang, dia berhasil menjadi bagian dari sebuah orkes dangdut. Luar biasa.

Si perempuan semakin takjub.

Seminggu berselang, perempuan itu jadian dengan Tono, temannya Anto. Teman yang sejak kecil main kelereng bareng, mancing ikan bareng, sampai dikejar-kejar bareng (gara-gara mancing di empang orang). 

Meski begitu, dia tidak kecewa pada Tono, karena dia tahu jodoh sudah ada yang mengatur. Ibaratnya, jodoh sudah ada di tangan Tuhan, kita tinggal minta dan berusaha ngambil. Ya kalau yang diambil salah, setidaknya kita sudah ngasih jalan buat orang lain.



Di balik semua itu, sebenarnya Anto kesal pada dirinya sendiri. Dia sadar sudah membuat fans di orkes dangdutnya kecewa. Dia sudah tidak punya gairah untuk bermain musik. Alhasil, dia tidak berminat main musik lagi. Pada akhirnya bakat ajaibnya dibuang percuma. Dia pun keluar dari orkes dangdut yang sudah melambungkan namanya meski sesaat.

Anto seperti itu karena dia merasa sudah tidak punya alasan untuk bermain musik. Orang yang membuatnya menyukai musik sudah melabuhkan hatinya untuk orang lain.

***
Gue adalah orang yang percaya kalau melakukan sesuatu karena orang lain itu gairahnya berbeda. Kayak... lagi ngantuk terus gigit lemon, seger! Punya motivasi berlebih. Semangat membara. Semua itu karena satu alasan : dia.

Apa yang dilakukan akan berefek ganda : gue dan dia.

Bahagianya dobel.

Apapun komentarnya, asalkan si dia sudah merespon, bawaannya bahagia aja.


Iya, gitu deh.

Gue yakin kalau setiap orang pernah melakukan sesuatu karena orang lain. Ngelakuin sesautu yang mungkin kita gak mau, atau bahkan nggak suka, tapi karena orang lain itu menyukainya, ya akhirnya dilakuin juga.

Sekali aja, gue yakin setiap orang pernah melawan dirinya demi orang lain. Membohongi diri sendiri demi membuat dia terkesan. 

Pada awalnya, segala sesuatu pasti terasa menyenangkan, karena setiap usaha akan dihargai, setiap melakukan kesalahan akan disupport. Lalu, sesuatu yang dikerjakan itu menjadi rutinitas yang menyenangkan. 

Lambat laun, tanpa sadar kita terjebak di dalamnya. Atau, kalau beruntung, ada orang lain yang tanpa sengaja menyadarkan dengan satu kalimat,

"Nggak nyangka ya..."

Ya, nggak nyangka kalau kita bisa seperti itu. Jauh dari bayangan orang lain yang tidak ada sangkut pautnya. 

Sebenernya nggak ada yang salah dari melakukan sesuatu karena orang lain. Selama itu baik, kenapa tidak? Selama itu bisa mendorong kita untuk maju, kenapa harus terbebani?

Ada begitu banyak hal yang sebelumnya kita tidak sadari, sebelum akhirnya bertemu dia.  Hal-hal yang membuat hati kecil berkata :

"Oh, ternyata gue bisa."

"Coba dari dulu."

"Ternyata nggak seberat apa yang gue bayangin."

"Eh, ternyata seru juga."

Dan lain sebagainya.

Tapi, apakah hal-hal yang kita lakukan itu akan bertahan setelah alasannya sudah tidak ada lagi? Apakah hal-hal itu tetap menyenangkan setelah dia pergi?

Dia sudah membiarkan dirinya menjadi alasan untuk orang lain. Meninggalkan kita yang masih mencoba bertahan. Menyisakan hal-hal yang menjadikannya sebagai kenangan.

Share this

Related Posts

Latest
Previous
Next Post »

2 komentar

komentar
30 April 2018 at 06:48 delete

Sebenarnya bukan pernah, tapi sering. Atau.. bisa disebut keseringan. Haha

Reply
avatar
15 November 2018 at 14:21 delete

BROKER TERPERCAYA
TRADING ONLINE INDONESIA
PILIHAN TRADER #1
- Tanpa Komisi dan Bebas Biaya Admin.
- Sistem Edukasi Professional
- Trading di peralatan apa pun
- Ada banyak alat analisis
- Sistem penarikan yang mudah dan dipercaya
- Transaksi Deposit dan Withdrawal TERCEPAT
Yukk!!! Segera bergabung di Hashtag Option trading lebih mudah dan rasakan pengalaman trading yang light.
Nikmati payout hingga 80% dan Bonus Depo pertama 10%** T&C Applied dengan minimal depo 50.000,- bebas biaya admin
Proses deposit via transfer bank lokal yang cepat dan withdrawal dengan metode yang sama
Anda juga dapat bonus Referral 1% dari profit investasi tanpa turnover......

Kunjungi website kami di www.hashtagoption.com Rasakan pengalaman trading yang luar biasa!!!

Reply
avatar