Kenapa Harus Berhenti Main Hakim Sendiri?


Konon melampiaskan emosi dengan tindakan anarkis itu menyenangkan. Jadi lega. Kalau dia salah, marahin aja. Kalau nggak seneng, ya ajak berantem sekalian. Kalau ada maling, gebukin rame-rame, bakar sekalian! Biar puas. Kalau dia minta ampun?

Apa itu ampun?

Emosi + Kesempatan + Bisikan setan = Hajar aja! Nggak ada ampun!

Si setan tinggal nonton sambil ngitungin, "satu... dua... tiga... umm... ada sembilan belas calon temen gue di neraka, xixixi..."

Peradaban udah semakin maju. Hampir semua yang kita mau ada digenggaman. Tapi entah kenapa cara berpikirnya masih aja terbelakang.

Gue rasa udah nggak heran kalau denger ada maling dibakar, kendaraan diamuk massa gara-gara nabrak orang, atau bahkan ada orang ketauan mesum malah ditelanjangin terus diarak.

“Udah, hajar aja!”
“Jangan kasih ampun! Biar gak kebiasaan!”
“Bakar! Bakar!”
"Telanjangin! Arak keliling kampung! Biar orang sekampung kebagian liat!"

Yang lebih memprihatinkan—menurut gue nggak waras—terkadang dalam kasus pencurian, nilai barang yang dicuri mungkin nggak lebih gede dari UMR Kabupaten Bekasi. Nilainya juga kayaknya nggak lebih dari 1% jumlah duit yang dikorupsi sama orang-orang yang dipilih rakyat waktu pemilu, yang duduk di kursi empuk di ruangan ber-AC, yang kalau lewat kadang nutup jalan, yang kadang nongol di tv sambil senyum-senyum dan dadah-dadah, yang kalaupun ketauan korupsi dia masih ngeyel minta keadilan.

Berkat mencuri sesuatu yang nilainya nggak bakalan bisa buat beli motor baru secara cash, diamuk massa menjadi taruhannya. Nyawa melayang dalam hitungan pukulan.

Nyawa melayang, daerah aman, warga pun senang.

Lagian si maling udah tau resikonya gede, untung juga nggak seberapa, masih aja berani maling. Udah dosa, digebukin warga, mati masuk neraka. Etdah.

Atau dalam kasus kecelakaan, sumpah serapah, hujatan, atau bahkan pukulan dan penghancuran kendaraan bakalan menjadi tontonan, lalu direkam, kemudian viral.

What the...

Oke, kalau gue ada di posisi korban atau yang kenal sama korban, pasti gue juga bakalan kesel. Sangat kesal. Mungkin juga marah. Mungkin juga bakalan ngajak berantem. Tapi, buat menjadi pembunuh untuk membela... itu sadis sih. Ngeroyok pelaku yang udah nggak berdaya... itu sih nggak manusiawi.

Mungkin kejadian main hakim sendiri terjadi karena ada ketidakpercayaan terhadap aparat negara, atau efek dari kekesalan yang menumpuk akibat kejadian yang terus berulang. Apapun alasannya, ‘olahraga primitif’ itu seakan nggak pernah hilang. Bahkan belakangan ini semenjak teknologi semakin berkembang, kejadian-kejadian kayak gitu malah dijadikan tontonan berjamaah lewat media sosial, udah gitu ikutan nyebarin, biar nambah viral.

Efek dari main hakim sendiri yang direkam dan disebarkan, bakalan menghadirkan masalah baru, sumpah serapah, cacian, dan makian bakalan kembali hadir, kali ini di kolom komentar. Orang-orang yang berbuat dosa karena kejadian itu jadi bertambah, yaitu netizen dengan jari-jemari yang liar. Efek lain yang ditimbulakn, saudara atau keluarga yang tau atau bahkan melihat tentunya akan kepikiran, kemudian stres. Efeknya menyebar. Kasian yang nggak bersalah.

Efek positifnya?

Gue yakin para calon maling nggak akan berani dateng ke tempat itu, pengendara nggak mau kebut-kebutan lagi, dan orang-orang yang suka berbuat mesum bakalan mikir belasan kali.

Meskipun ada efek positif yang ditimbulkan, main hakim sendiri tetep aja salah. Kalau masih ada yang mikir main hakim sendiri itu wajar karena yang dihakimi berbuat salah, seharusnya ngaca dulu. Kalau anda mukulin orang, bahkan sampai meninggal, anda juga salah. Apa anda mau dipukulin juga sampai meninggal?

Cuma mau bikin jera? Cuma kesel aja? Nggak niat bunuh? Kalau kebablasan dan meninggal nggak boleh ada yang disalahin?

Sadarlah.

Memangnya si maling saat baru lahir udah niatin diri buat jadi maling pas dewasa nanti?

Memangnya orang yang mengalami kecelakaan itu berangkat dari rumah udah niat mau nabrak?

Memangnya kalau orang mau berbuat mesum itu udah niat? Umm... kayaknya ini sih niat. Tapi bukan berarti harus ditelanjangin dan diarak juga. Kalau ditelanjangin dan diarak, siapa yang jamin orang-orang yang ngarak nggak bakalan liatin? Sama-sama dosa kan jadinya.

Setiap sesuatu yang terjadi pasti punya pemicunya. Kalau pemicunya sudah dilepaskan, pasti ada efek yang ditimbulkan. Kebablasan atau tepat sasaran, itu tergantung emosi dan keberuntungan.

Lagipula, orang-orang yang suka main hakim sendiri itu sebenernya nggak punya wewenang. Walau bagaimanapun, dia salah.

Main hakim sendiri = kejahatan yang didukung banyak orang.

Ini bahaya.

Kalau tujuannya buat ngasih hukuman setimpal, gue rasa ngeroyok orang itu nggak bisa dibenarkan. Tujuan sebenarnya jelas udah melenceng, bukan lagi membela, tapi cuma meluapkan emosi. Bakalan ada efek domino. Lagipula, negeri ini punya hukum, ada aparat keamanan yang berwenang menangani masalah ini.

Kurang puas?

Buat orang-orang yang merasa punya AGAMA, percayalah hukum-Nya jauh lebih adil. Hari pembalasan akan tiba menjawab semua ketidakpuasan tentang hukum dunia yang mungkin bisa dimanipulasi.

Jadi, berhenti main hakim sendiri.

Gambar: http://www.mediaindonesia.com/read/detail/116662-tindakan-main-hakim-sendiri-makin-mencemaskan

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

2 komentar

komentar
15 April 2018 at 07:58 delete

Whoa! Tulisan yang berisi sekali.

Reply
avatar
15 April 2018 at 20:08 delete

Iya. Kalo nggak ada isinya, kosong.

Reply
avatar