Semakin Tinggi Semakin Lupa Diri

Gue mau ngasih tahu informasi yang sangat penting buat kalian semua: Sekarang udah musim hujan!

Oke, lupakan.

Di postingan kali ini gue mencoba untuk bikin cerpen, semoga aja banyak yang suka dan diterima dengan baik. Kalau responnya baik, gue akan mencoba bikin cerpen-cerpen lainnya, dan kalau responnya nggak baik, ya, gue tetep bikin cerpen lagi. Kenapa? Ada yang protes? Ini kan blog gue, jadi, suka-suka gue dong.

Oke... Oke.. Kalo ada yang mau protes, ya protes aja. Gue siap membuka mata buat membaca protes-protes kalian. Apalagi kalo ada yang sampe sembelit, muntah-muntah, susah tidur atau malah tiba-tiba hamil setelah baca cerpen gue, kalian boleh protes. Nanti gue doain biar cepet sembuh.

Kalau nggak ada yang protes, yaudah, mau diapain lagi.

Sekarang langsung aja dinikmati.


^^^



Anto, Agus dan Budi, mereka adalah tiga orang sahabat yang dipertemukaan saat tes masuk SMA. Sampai sekarang, setelah mereka diterima dan telah melalui satu tahun pertama di sekolah itu, mereka tetap menjadi sahabat, bahkan semakin hari persahabatan mereka semakin erat.

Tidak ada hal yang sulit bagi mereka. Semua dianggap mudah. Jika ditanya, memangnya apa yang bisa kalian lakukan? Mereka akan menjawab: Apapun bisa kami lakukan. Selama kami bertiga, apa ,sih, yang nggak.


Namun, pada kenyataannya, mereka bukanlah anak-anak pintar. Nilai mereka rata-rata jeblok, tugas-tugas yang diberikan guru pun jarang mereka kerjakan, dan mereka juga selalu sulit mendapat teman kelompok jika ada tugas kelompok. Alasannya, ya, karena mereka tidak ada yang bisa diandalkan. Namun, mereka tidak pernah mempermasalahkan jika tidak mendapat teman kelompok, karena mereka bertiga. Mereka akan membentuk kelompok sendiri, walaupun hasilnya, ya, kalian bisa menebaknya sendiri lah.

Sejak dipertemukan, mereka selalu melakukan berbagai macam hal bersama. Ketika salah satu di antara mereka tidak mengerjakan tugas, maka semua ngaku tidak mengerjakan tugas. Jika salah satu dihukum, maka mereka semua akan minta dihukum, bahkan sampai memohon agar dihukum. Bahkan, ke toilet pun bareng-bareng, satu toilet buat rame-rame. Jangan tanya apa yang mereka lakukan di dalam sana.

Semua rasa gembira, kecewa dan derita mereka lewati bersama. Tidak heran, kebersamaan yang sering dilakukan membuat rasa persahabatan mereka semakin terasa indah. Kata-kata terindah pun tidak bisa menggambarkan indahnya persahabatan mereka.

Suatu hari, Agus dan Budi tidak masuk sekolah. Agus sakit, sementara Budi ada urusan keluarga: nyunatin kambing milik keluarganya.

Anto sendiri di kelas. Layaknya burung yang kehilangan kedua sayapnya, Anto jadi anak pendiam. Saat jam istirahat, Anto hanya diam di tempat duduknya, bengong dan terkadang mencoret-coret halaman belakang buku tulisnya secara asal. Anggap saja dia sedang melukis dengan gaya abstrak.

“Kemana temen lo?” Tanya Yudha, anak paling pintar di kelas, tiba-tiba menghampiri Anto yang sedang bengong.

“Agus sakit, terus Budi ada urusan keluarga.” Jawab Anto singkat, namun perlahan bibirnya tersenyum, merasa senang karena masih ada yang memperhatikannya.

“Oh, yaudah. Gue duluan ya.”

“Lo mau kemana?” Tanya Anto.

“Ke Kantin.”

“Gue ikut ya.” Anto segera berdiri dari tempat duduknya, bersiap ikut ke kantin bersama Yudha.

“Wih, tumben. Eh, gue gak jadi ke kantin ah, mau ke toilet aja, hahaha…”
Anto terdiam sambil menatap Yudha yang sedang asik tertawa di depan matanya. Tanpa Yudha sadari, hati Anto hancur dan kepalanya dipenuhi pikiran negatif karena perkataannya.

“Kalo lo gak mau deket-deket sama gue, bilang! Jangan mentang-mentang lo pinter, terus gue gak kayak elo, elo mempermainkan gue!” Bentak Anto sambil menggebrak meja. “Mungkin gue emang gak pantes main sama anak pinter kayak elo!” Lanjutnnya, lalu keluar kelas dengan raut wajah kesal.

“Eh? Nto..” Yudha tampak bingung melihat Anto yang tiba-tiba marah. Dia tidak menyadari kesalahannya, karena dia memang merasa kalau itu bukanlah sebuah kesalahan. Hanya ingin mengajak bercanda, namun ternyata malah salah sangka.

Anto tersinggung dengan ucapan Yudha, yang seperti tidak mau dekat-dekat dengannya. Yudha memang tergolong anak yang jarang bercanda, kalaupun bercanda, banyak yang menganggapnya sebagai hal yang serius. Apalagi sekarang, dia tertawa tepat di depan wajah Anto, seperti sedang meledek. Seketika hati Anto hancur.

Keesokan harinya, Agus dan Budi sudah berada di kelas, saat Anto datang dengan raut wajah yang tidak seperti biasanya, Sangat suram, tidak penuh semangat dan seperti bukan Anto yang biasanya.

“Woi, Nto! Gimana kemaren, pasti lo kesepian ya gak ada kita?” Tanya Agus dengan penuh keceriaan, berharap ada sesuatu yang seru akan terjadi hari ini.
Anto diam.

“Ngapa lo? Tumben suram. Biasanya lebih suram.” Budi yang menyadari ada yang beda dari Anto, berusaha perhatian.

Anto duduk, lalu menaruh kepalanya di atas tangan yang ia silakan di atas meja, tanpa memperdulikan ucapan Agus dan Budi.

Agus dan Budi yang melihat Anto tidak bersemangat, bingung, dan mereka pun mencoba bercandain Anto. Agus mengelitiki Anto, sementara Budi mencabuti bulu ketek Anto satu persatu.

“Bisa diem gak sih lo berdua!?” Anto tampak sedikit emosi. Sepertinya dia memang sedang tidak mau diganggu. “Kelakuan lo berdua kayak anak kecil, pantesan aja kita begini.”

“Begini??” Ucap Agus dan Budi bersamaan, bingung dengan maksud ucapan Anto.

Semalaman Anto tidak bisa tidur karena ucapan Yudha kemarin. Dia masih kesal dan menyimpan dendam di dalam hatinya kepada Yudha, rasanya ingin membalas perlakuan Yudha, tapi dia tidak ingin membalasnya dengan serangan fisik, melainkan dengan cara yang lebih keren, menjadi lebih pintar dari Yudha. Dengan begitu, dia bisa merendahkan Yudha, sama seperti yang kemarin dia rasakan. Tapi, bagaimana caranya?

Setelah kejadian itu, ada sesuatu yang berubah dari diri Anto. Semakin kesini, Anto tidak seperti Anto biasanya yang penuh dengan keceriaan. Dia jadi jarang bercanda, joke-joke yang biasanya membuatnya tertawa, sering hanya disenyumi, dan ketika diajak keluar untuk main atau sekedar nongkrong-nongkrong, Anto sering menolak dan berkata: “Sorry, gak bisa. Gue lagi sibuk.”

Pada akhirnya, hubungan persahabatan mereka bertiga tidak seasik dulu lagi. Walaupun masih tetap terjaga dengan baik, tetap saja terasa aneh. Perubahan sifat Anto yang menjadi agak dingin adalah penyebabnya.

Walaupun agak berubah, namun perubahan yang ditunjukan Anto ternyata tidak sia-sia. Saat pembagian hasil ujian tengah semester, dia berhasil membuktikan siapa dirinya sebenarnya, ranking 4 berhasil Anto genggam dengan sempurna. Teman-teman sekelasnya kaget, Agus dan Budi juga sama.

“Gue baru tau lo pinter.” Ucap Budi bangga.

“Iya, kemaren-kemaren kemana aja lo.” Agus menambahkan.

“Duh, jadi minder, nih, temenan sama orang pinter hahaha.” Kata Budi lagi.

“Orang pinter? Emang gue dukun!” Celetuk Anto. Mereka semua langsung tertawa. “Tenang, masalah contekan, sih, aman.”

“Asyik!” Agus dan Budi girang.

Hari demi hari berlalu, minggu demi minggu berganti, sekarang Anto sudah semakin pintar, meninggalkan jauh Agus dan Budi yang masih tetap seperti yang dulu. Alasan mengapa mereka berbeda cukup simpel, Anto punya ambisi untuk mengalahkan Yudha, makannya dia rajin belajar dan mengorbankan waktu santainya untuk belajar, sementara Agus dan Budi tidak punya ambisi, makannya mereka lebih memilih santai-santai sambil nonton FTV.

Saat ulangan semster pertama, Anto berhasil mendapatkan ranking 1 di kelas. Ambisinya untuk mengalahkan Yudha sudah tercapai. Dia sudah berhasil menjadi pintar dan menjadi nomor satu di kelas. Dia juga sudah tidak dianggap sebelah mata lagi oleh teman-temannya. Sekarang teman-teman di kelasnya pun berebut mendekatinya dan berebut menjadi teman satu kelompok saat ada tugas kelompok. Tapi, walaupun banyak yang berebut menjadi temannya, Anto tetap memprioritaskan Agus dan Budi sebagai orang terdekatnya.

Pernah ada yang bertanya, kenapa Anto tetap memilih mereka, dia menjawab dengan santai: “Kasian mereka, ‘kan otaknya dimakan rayap. Kalo nggak ada gue, mana mungkin mereka bisa.”

Awalnya Agus dan Budi menganggap tingkah Anto hanya bercanda, mereka juga masih memakluminya, bahkan masih tertawa untuk menanggapinya. Tapi, semakin Anto pintar, lama-kelamaan sikap Anto semakin berubah menjadi angkuh. Mentang-mentang pintar, sekarang semua teman kelasnya dianggap remeh, tidak terkecuali Agus dan Budi.

Sadar Anto sudah mulai berubah, Agus pun menegur Anto dengan berat hati. “Nto, lo berubah!”

“Iya, gue berubah jadi pinter. Seneng ‘kan lo punya temen pinter. Nilai lo juga bisa kedongkrak.” Jawab Anto sambil tertawa.

“Nggak. Lo bukan Anto yang gue kenal. Lo kesurupan ya?”

“Hahaha… bercanda aja lo. Udah jangan mikir yang berat-berat. Istirahatin aja otak kopong lo itu, hehe…”

BRUAKK‼

Agus menggebrak meja.

“Iya, gue emang nggak pinter, tapi gue masih punya harga diri. Jangan mentang-mentang lo pinter, elo bisa ngerendahin orang lain! Lo bukan Anto!”

“Terserah, deh, lo mau bilang apa.”

Ketika seseorang sudah berada di atas, saat mereka sudah mendapatkan apa yang dia inginkan, saat seseorang memiliki sesuatu yang lebih dari orang lain, terkadang mereka berubah. Hal yang paling mudah terlihat, mereka akan menganggap remeh orang lain.

Setelah itu, Anto berganti-ganti teman. Mendekati orang-orang yang dianggap pintar, dan setelah melampaui kemampuan si pintar, lalu Anto merendahkannya. Ketika si pintar itu tidak mengerti sesuatu, sedangkan Anto mengerti, dia sering menyombongkan dirinya, menganggap dirinya yang paling pintar.

Lambat laun teman-teman barunya menyerah dan mundur secara perlahan, meninggalkan Anto bersama keangkuhannya. Yang memuji dia? Hanya guru, yang tak mungkin ia rendahkan.

Kini Anto benar-benar sendiri, menikmati jerih payahnya sendiri, membagi cerita kepada dirinya sendiri dan mencoba tersenyum sendiri saat dia mendapatkan hal baru. Semua bisa melihat kalau Anto memang sedang asik menikmati hidupnya, namun apa yang tidak terlihat, sebenarnya Anto kehilangan kehidupannya. Dia kehilangan hal terbaik dalam hidup: Teman.

Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga. Tapi Anto bukan tupai, dia tidak terjatuh, melainkan salah langkah yang membuatnya tersesat. Sekarang dia merasakan hal yang paling buruk dibanding kebodohan: Kesendirian.

Anto sedang duduk sendiri, mencoba menyibukan diri dengan mencoret-coret halaman belakang buku tulisnya, mencoba menipu orang lain dengan senyum palsu di bibirnya. Agus dan Budi datang menghampiri Anto, dan Agus langsung bertanya pada Anto, “Nto, lo mau balik?”

“Balik kemana?” Anto tampak bingung.

“Balik ke Anto yang dulu gue kenal. Lo emang udah ngedapetin apa yang lo mau, tapi lo juga udah ngilangin Anto yang dulu.” Agus dan Budi tersenyum. “Kalo lo udah sadar, selalu ada tempat untuk kembali.”

Anto menatap mata Agus dan Budi secara bergantian. Dia melihat ada kebahagiaan yang dulu pernah mereka rasakan bersama, kebahagiaan yang mungkin lebih nikmat daripada menjadi nomor satu.

Lambat laun Anto mulai sadar kalau yang berada di hadapan Agus dan Budi sekarang bukanlah Anto. Keangkuhan telah merenggut Anto yang dulu, dan juga teman-temannya. Anto akhirnya sadar, yang membuat hidup ini menyenangkan bukanlah menjadi kaya, menjadi pintar atau menjadi orang nomor satu yang bisa merendahkan orang lain, melainkan mempunyai teman berbagi.

Anto tersenyum, dia bersyukur karena masih ada teman yang mau menerimanya kembali.

“Tolong… gue minta tolong sama kalian. Bantu gue buat kembali ke Anto yang dulu. Gue capek begini terus.”

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

9 komentar

komentar
2 December 2014 at 15:23 delete

Tolong… gue minta tolong sama kalian. Bantu gue buat kembali ke Anto yang dulu. Gue capek begini terus.” <<- gue ngerasa aneh sama kalimat ini... tapi smgt!

Reply
avatar
2 December 2014 at 22:04 delete

Aneh ya? Yaudah, lain kali nggak yang aneh-aneh lagi.

Reply
avatar
3 December 2014 at 00:07 delete

Makanya kalo terbang ke atas harus sambil ngadep bawah ya. :)

Reply
avatar
25 December 2014 at 08:58 delete

makanya kalau udah ada di atas jangan angkuh,ingatlah saat dulu ketika sedang berada di posisi bawah :)

Reply
avatar