Yang Memburu Akan Diburu


Suatu siang yang lumayan cerah, gue lagi duduk-duduk imut di ruang tengah, asik berselancar di dunia maya sekaligus menunggu FTV siang yang lagi iklan, saat tiba-tiba gue tersadar kalau ada seekor tikus yang sedang menatap gue. Sebagai cowok, gue balik menatapnya dengan tatapan jantan. Mata kami saling bertemu untuk beberapa saat.

Eh, dia kabur. Kayaknya dia takut sama gue.

Mungkin gue akan membiarkanya pergi begitu saja seandainya dia lari ke luar rumah. Tapi, ini gak bisa dibiarin, karena dia kaburnya ke kamar gue yang pintunya dibiarkan melongo.

Gue nggak mau membagi kasur untuk tidur sama tikus nanti malam.

Berbekal keyakinan kalau gue memang cowok sejati yang gak takut sama tikus, gue bangun dari kursi, menatap ke arah pintu kamar dengan gagah, lalu… jerit-jerit manggil Bokap, minta bantuan.

Kalian tahu, dua orang akan lebih baik daripada sendiri.

Singkat cerita, pintu kamar ditutup dari dalam. Sekarang dua pria berkumis siap menyerang dengan modal masing-masing sebuah sapu. Tanpa banyak kompromi, kami langsung membuka ruang. Meja belajar digeser, kasur didiriin (karena kasur gue ngegeletak gitu aja), lalu buku-buku juga ikut dturunin dari meja (Padahal, menurut gue, sih, gak ngaruh). Di situ… kami mabok debu.

Sialan! Ternyata kamar gue banyak debunya.


Selama beberapa saat, kami terus mencari tempat persembunyian tikus itu. Padahal kamar gue kecil, tapi udah lama nyari, gak ketemu juga. Sempat juga kepikiran kalau tikus itu cuma khayalan gue aja. Kalau sampai tikus itu memang cuma khayalan gue aja, entahlah apa yang akan Bokap lakukan terhadap gue. Yang ada di bayangan gue, sih, paling Bokap ngomel-ngomel, atau kalau nggak, ya, sapu yang ada di tangannya akan melayang bebas ke pantat gue.

Tapi, akhirnya senyum di bibir gue mengembang, saat kami melihat sasaran perburuan keluar dari persembunyiannya dengan gelagapan.

“ITU, PAK! ITUU!” Teriak gue sambil nunjuk tikus yang gelagapan.

Bokap langsung melancarkan serangan, namun serangan pertamanya gagal. Tikus itu berhasil lolos, lalu mengganti tempat persembunyianya. Ternyata dia lebih pintar dari dugaan gue.

Manusia Yang Akan Diburu

Beberapa saat kemudian, tikus itu berhasil dikeluarkan dari tempat persembunyiannya. Lalu, dia lari ke belakang kasur yang dipepetin ke tembok.

Bokap langsung memasang tampang sangar, “Kita kepung!” Katanya. Gua nurut aja, takut dianggap anak durhaka kalau berani nolak.

Tapi sepertinya dugaan gue sebelumnya memang benar, kalau tikus itu memang pintar. Dia lolos, dia menghilang, dia lalu ngegerayangin kaki gue,

“HUAAA… ITU TIKUSNYA! HUAAA… ITU...! TADI LEWAT SINI!” Gue jerit-jerit panik. Saking paniknya, gue juga melompat-lompat.

Bokap langsung ngeliatin gue, gak peduli kemana tikus itu lari. Beliau lalu berkata dengan wajah datar, “Kamu gimana, sih, ada tikus bukannya dipukul, malah teriak-teriak sendiri.”

Di situ gue menyadari satu hal: Gue cupu abis!

Seperti layaknya jagoan yang mendapat kekuatan setelah terpuruk, gue pun berubah menjadi cowok maco. Harapannya. Gue pegang gagang sapu dengan mantap, lalu gue pukul secara asal ketika tikus itu lewat di depan mata, takut ngegerayangin kaki gua lagi.

Sebenarnya gue nggak takut sama tikus, gue cuma geli ketika dia ngegerayangin kaki. Sama kayak geli-nya kecoa yang terbang, terus tiba-tiba menclok di muka. Kalau ada yang nggak geli dan panik, atau jerit-jerit, dia pasti lebih maco dari Chris John.

Oke, kita kembali ke topik, tikus. Sebenarnya jalur pelarian dia nggak ribet, cuma bolak-balik aja menyusuri pinggiran tembok. Tapi karena di situ ada bangku, meja dan juga lemari, semua jadi terasa ribet. Kalau mau dikeluarin, nambah ribet. Nambah kerjaan. Ngeberesinnya lagi, males.

Karena udah mulai capek, gue mulai brutal. Setiap tikus itu lewat, gue pukul sekenceng-kencengnya, nggak lupa dikasih efek suara “HUAAA…” di setiap pukulannya. Bodo amat, yang penting kena, pikir gue. Sampai pada akhirnya, gue memukul dengan keras,

“PLETAK!”

Tangan gue menghantam kaki kursi.

Karena nggak mau dianggap lemah, gue pura-pura gak sakit, padahal… YA, SAKIT LAH!

Dan saat gue lihat, ternyata berdarah. Biadab! Kursi biadab!

Mungkin, kalau kursi itu bisa ngomong, dia juga bakalan bilang gini, “PEA! GUE LAGI DIEM, LO PUKUL-PUKUL. RASAIN, BERDARAH, KAN, LO!”

Bokap ngeliatin gue. Gue berusaha stay cool.

Kalian tahu apa yang terjadi pada tikus itu? Ya, dia lolos. Genius. Dia memang genius. Dan beberapa saat setelah itu, dia berhasil memanjat baju yang gue gantungkan di belakang pintu, lalu keluar lewat ventilasi. Gue dan Bokap menatapnya dengan setengah frustasi.

Kepalang tanggung, kami langsung keluar kamar, lalu menutup semua akses ke dalam rumah.

MAMPUS LO, KUS!

Karena rumah gue nggak terlalu besar, nggak sampai sepuluh menit akhirnya tikus itu berhasil diringkus. Ternyata tikus itu bukan spesialis ruang tengah. Dia lemah di sana. Dia berhasil gue pukul saat mau merayap di dinding. Rupanya tikus itu gak tahu diri, dia nggak sadar kalau dia adalah tikus, bukan cicak.

Gue menahannya di lantai. Tiba-tiba Nyokap datang membawa pentungan, lalu segera ngegetokin tikus itu.

Gue yang ngeliat, langsung berkata setengah teriak ke Nyokap, “Bu, udah, Bu.”

Nyokap masih terus ngegetok.

“UDAH, BU! ITU, PARAH BANGET!”

Nyokap masih nggak peduli sama kata-kata gue.  

“BU, CUKUP! DIA ADALAH SAUDARA KANDUNG AKU!”

Oke, yang terakhir diralat.

Setelah itu, Nyokap langsung ngomong ke gue, “Kalo dia gak ngeganggu, Ibu juga gak bakal kayak gini.”

Ya, memang benar tikus itu mengganggu. Dia akan makanin apa saja yang ada di rumah. Bahkan, sabun juga dimakan. Mengganggu. Tapi bukan itu yang gue tangkap. Dari omongan Nyokap, gue mengerti kalau manusia memburu tikus karena dia sudah sangat mengganggu dan meresahkan manusia. Dan, ketika saatnya tiba, gue berpikir kalau semuanya akan berbalik, yang memburu akan diburu. Manusia yang akan diburu. Mungkin bukan hanya oleh tikus, tapi oleh alam. Saat manusia sudah sangat meresahkan alam dengan cara mengeksploitasi dan merusaknya, saat itulah alam akan membalas dan memburu manusia. 

Gambar: Sumber

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

17 komentar

komentar
8 February 2015 at 00:14 delete

whahaha, tikus kampret.
lucu ni ceritanya :))
jadi inget radity dika dulu di buku kambing jantan juga pernah cerita tentang curut...

Reply
avatar
8 February 2015 at 10:19 delete

Hahaha gile lu, Ndro! Kocak. Dan kalimat terakhirnya.. hm.. tumben bijak?

Reply
avatar
8 February 2015 at 13:56 delete

Nggak ada habis kalo gue mah :)

Reply
avatar
8 February 2015 at 15:15 delete

Hahahaha, kocak sekaligus keren ceritanya ji. Etapi, tikus itu terkadang membawa keburuntungan lho. Biasa dipake cowo-cowok buat modus. Oiya, btw gue mendapat pelajaran dari sini. Misalnya ada tikus masuk kerumah gue, pasti gue akan menjebaknya diruang tengah. Makasih ya buat info pentingnya. MAKASIH LHOOO, JI! :))

Reply
avatar
8 February 2015 at 22:06 delete

Tikus kampret? Hewan jenis baru, ya? Tikus yang ada sayapnya?

Reply
avatar
8 February 2015 at 22:10 delete

Kalo lagi waras, gue emang bijak. Tapi warasnya, ya, gitu... jarang.

Reply
avatar
8 February 2015 at 22:13 delete

Dasar tukang modus!
Yoi, sama-sama kalo gitu :)

Reply
avatar
8 February 2015 at 23:24 delete

HUKUM RIMBA ITU BERLAKU KAWAN.. HUHUAHAHAHAHA~ *ketawa jahat pake suara dewa*

Reply
avatar
9 February 2015 at 00:36 delete

Karena pada dasarnya tikus emang hama buat manusia. Ya, gitu deh jadinya. Bener kata ibu lo, Ji. Kalo tikusnya dateng baik-baik bertamu ke rumah lo mungkin beda lagi ceritanya. :v

Reply
avatar
10 February 2015 at 00:04 delete

Kalo dia dateng baik-baik, udah gue ajak ngopi bareng :D

Reply
avatar
Anonymous
11 February 2015 at 14:02 delete

Bangkeeeeeeeeek. Endingnya kece gilak :D

Dari hewan tikus aja bisa dibikin cerita, banyak banget penulis hebat ya disini :3

Reply
avatar
16 February 2015 at 22:33 delete

Hahaha itu untung kalian gak beradu sapu antara anak dan bapak. :))
TAPI TIKUS EMANG NYEBELIN! MAMPUS LU KUS!!

Reply
avatar
7 March 2015 at 22:36 delete

gokil. lucu nih. ngakak parah gua. hahahaha.
gua juga suka geli-geli gitu kalau liat tikus. tapi sekali ketangkep, gua biarin dia mati perlahan-lahan. kakinya di atas, kepala di bawah. gua gantung di tali jemuran. rasain.

Reply
avatar
19 March 2015 at 11:12 delete

haha ceritanya lucu,,kalau sakit bilang aja sakit gak usah sok sokan tetap cool :D

Reply
avatar