[Cerpen] Surat Tanpa Nama

Bulan puasa telah tiba, dan tarawih menjadi momen yang paling ditunggu-tunggu oleh Indra, “Sambil ibadah, siapa tau nemu jodoh” Pikirnya. Ya, Indra adalah jomblo sejati. Tidak ada yang meragukan itu. Setiap langkahnya, harapannya selalu bertemu dengan jodohnya. Di manapun itu. Kapanpun itu. Bahkan, setiap selesai ibadah, doa yang pertama kali muncul adalah meminta jodoh.

Bukannya tidak mau usaha untuk mendapatkan pacar, tapi mau bagaimana lagi, Indra orangnya sangat pemalu dan minder. Padahal, tampangnya tidak jelek-jelek banget, tapi tetap saja tidak pede berkenalan dengan orang baru, apalagi cewek. Yang bisa dia lakukan hanyalah menunggu ada cewek khilaf mengajaknya kenalan.

Walaupun begitu, sebenarnya dia punya satu cewek yang sangat dia sukai sejak SD, namanya Sarah. Indra tentu sangat mengenalnya, mereka juga akrab, karena rumah mereka berdekatan dan sekolah di tempat yang sama, bahkan sampai SMA. Tapi, sampai mereka lulus, Indra tidak pernah berani mengungkapkan perasaannya kepada Sarah. Dia hanya berani mengirimkan surat-surat tanpa nama, dulu, saat SD. Hasilnya, dia hanya bisa menangis dalam hati ketika Sarah memutuskan kuliah di luar kota.

Dan di bulan puasa kali ini, Indra tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk mencari˗˗minimal satu teman cewek. Dan, waktu yang dia anggap tepat adalah saat tarawih. Harapannya, dia bisa menemukan teman (calon jodoh) yang cantik, baik, dan sholehah.

Membayangkannya saja sudah membuatnya senyum-senyum sendiri.


***

Sore itu, ketika azan magrib hanya menunggu menit, Indra masih asik mandi. Sabunan tiga kali. Shampoan dua kali. Bahkan gosok gigi setengah jam lamanya. Dia tidak mau kelihatan tidak menarik ketika tarawih nanti. Dia ingin setiap cewek yang melihatnya berdecak kagum, lalu mengajak kenalan. Ya, itu harapannya.

Namun, ada yang berbeda ketika pulang tarawih malam itu. Bukannya melihat anak kecil mainan petasan atau perang sarung, Indra malah melihat bidadari turun. Sekilas dia melihat cewek itu menoleh, sangat cantik. Matanya langsung melotot, sarungnya hampir melorot, dan hampir saja tercebur ke dalam got.

Seketika Indra teringat dengan seseorang.

“Sarah?” Tanyanya dalam hati. Ada rasa percaya dan tidak percaya dalam hatinya.  

Untuk memuaskan rasa penasarannya, Indra pun mencoba mencari kebenaran. Dia mengikuti cewek itu dari belakang. Karena tidak berani menyapa, Indra hanya menunggu cewek itu menoleh.

“Kak, tunggu!” Tiba-tiba terdengar suara anak kecil memanggil.

Indra langsung sadar kalau suara itu adalah suara adiknya Sarah. Dan dia pun yakin kalau cewek di hadapannya memang Sarah.

Tidak berselang lama, senyumnya langsung merekah ketika cewek dihadapannya itu menoleh, dan ternyata benar, dia Sarah. Sementara itu, Sarah terlihat bingung melihat cowok senyum-senyum di hadapannya.

Sedetik kemudia dia pun menyadari sesuatu.

“Indra?”
“Iya,” Jawab Indra dengan riang gembira. “Apa kabar?”
“Baik,” Jawab Sarah sambil senyum-senyum sendiri.
“Kenapa senyum-senyum begitu? Umm… seneng ya ketemu temen lama?”
“Sarung kamu melorot.”

Malam itu menjadi malam yang sangat menggembirakan sekaligus memalukan untuk Indra. Meskipun begitu, dia berharap hari-hari selanjutnya akan menjadi hari-hari yang menyenangkan.

***

Seiring berjalannya waktu, Indra dan Sarah kembali akrab seperti dulu. Hari-hari mereka dipenuhi senyum dan tawa. Selain pergi dan pulang tarawih bersama, sekarang mereka rajin ngabuburit bareng, tentu dengan adiknya Sarah, sepedahan keliling taman. Dan, dari sana Indra mulai mengkhayal untuk menjadi imam bagi Sarah, sekaigus ayah dari anak-anak mereka nanti.

Walaupun Indra tahu khayalannya itu terlalu tinggi dan masih terlalu dini, dia tetap mengkhayalkannya dengan riang gembira. “Ah, nggak ada yang ketinggian buat orang yang mau berusaha.” Pikirnya.

Sampai suatu ketika, Indra memberanikan diri untuk menanyakan hal yang sangat ingin dia ketahui dari Sarah setelah lama tak bertemu.

“Umm… kamu udah punya pacar?”

Sarah tidak menjawab. Dia hanya tersenyum, membuat Indra percaya kalau dia masih punya peluang.

Malamnya, Indra mulai berpikir untuk menyatakan perasaannya dan mengakui surat-surat tanpa nama yang pernah ia selipkan ke dalam tas Sarah, dulu. Dia ingin menyatakannya sebelum Sarah pergi lagi. Indra tidak mau menyesal untuk kedua kalinya.

Namun, Indra masih belum memiliki keberanian. Dia masih terlalu takut akan resiko yang nantinya dia dapat. Sarah marah padanya. Sarah jadi membencinya. Dan, Sarah menjauhinya. Dia belum siap dengan semua resiko itu.

Baginya, pasti akan ada waktu yang tepat untuk mengakui itu semua.

***

Minggu pagi, Indra baru saja selesai mandi ketika nyokapnya memberi tahu ada tamu yang datang.

“Sarah?” Tanya Indra, setengah terkejut. “Tumben datang pagi-pagi.”
“Iya. Aku mau ngembaliin ini.” Indra menerima sebuah kardus kecil yang diberikan Sarah. Ketika dibuka, Indra terkejut kerena isinya adalah surat-surat yang pernah ia berikan dulu.
“Aku tau kamu yang ngasih surat itu. Aku juga tau kamu masih suka sama aku. Tapi, yang harus kamu tau, aku sukanya sama cowok yang berani ngomong langsung,”

Indra langsung tersentak, merasa diberi lampu hijau.

Belum sempat Indra bicara, Sarah keburu melanjutkan omongannya:

“Andai dulu kamu berani ngomong langsung, aku pasti milih kamu. Tapi, sekarang aku udah punya pacar, dan kami ingin serius,” Sarah tersenyum. Senyum yang membuat Indra ingin menagis. “Aku juga nggak pengen kamu nganggep aku ngasih harapan ke kamu. Maaf.”

Sarah lalu pergi sebelum Indra sempat mengatakan apa-apa. Lagipula, hatinya yang hancur membuat mulutnya sulit bicara. Dia hanya terdiam, memandangi Sarah yang menjauh pergi. Orang yang sangat dia sukai menjauh pergi.

Harapannya lenyap.

“Andai gue lebih berani,” Gumamnya, lalu masuk ke rumah dengan rasa getir yang menyiksa.

Walaupun kejadian itu membuat hati Indra serasa tersayat-sayat, tapi hubungannya dengan Sarah tidak berubah. Tetep berteman, walau ada sedikit jarak. Dan Indra pun tidak berubah, dia masih rajin ibadah dan rajin berdoa agar segera mendapat jodoh. Hanya saja, kali ini Indra tidak hanya berdoa. Dia sadar, doa tanpa usaha, nihil hasilnya.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

10 komentar

komentar
20 June 2015 at 14:07 delete

segala apapun harus dibarengi doa dan usaha :)

Reply
avatar
22 June 2015 at 08:34 delete

Duh sedih pas bagian “Andai dulu kamu berani ngomong langsung, aku pasti milih kamu. Tapi, sekarang aku udah punya pacar, dan kami ingin serius,” Sarah tersenyum.

Reply
avatar
23 June 2015 at 22:31 delete

Hmmm. Tumben nih bikin cerpen. :)

Reply
avatar
24 June 2015 at 08:26 delete

Sedih itu cuma halusinasi. Kalau kau benar-benar percaya, sedih sebenarnya tidak ada. #apasih

Reply
avatar
24 June 2015 at 08:28 delete

Lagi kepengen aja hahaha...

Reply
avatar
25 June 2015 at 13:52 delete

Baru pertama kali mampir,salam kenal :D

Keren juga cerpennya :D

Reply
avatar
24 July 2015 at 14:09 delete

Kebanyakan cewek memang kyk Sarah.
Karena si cewek enggak berani ngungkapin duluan, sedangkan si cowok kelamaan ngungkapinnya akhirnya ya begini, nyesek. Hehee :D

Reply
avatar
8 September 2015 at 01:21 delete

cewek ngasih kode.. tapi cowoknya kadang gak ngerti... wkwkwkkw


Pecinta Bola Gabung di Sini

Reply
avatar